STANDAR KOMPETENSI 5
1. Penyebab
Berdirinya Dinasti Umayyah
Proses singat dan sebab-sebab
berdirinya Dinasti Bani Umayah
Berdirinya dinasti Bani Umayah dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa
penting didalam sejarah perjalanan umat islam, yaitu peristiwa ‘Am al-jama’ah
(Rekonsiliasi umat islam). Di maskin dekat madinah, Kufah pada tahun 41 H/661
M.
Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan
sejarah umat Islam. Peristiwa ini ditandai dengan proses penyerahaan kekuasaan
KHALIFAH dari tangan Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah
berkuasa kurang lebih selama 6 bulan. Hasan bin Ali melakukan sumpah setiadan
mengakui Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin umat islam. Pengakuan itu
kemudian diikuti oleh para pendukungnya di kota Irak, Kufah.
Meski demikian kekuasaan Hasan
bin Ali sangatlah singkat. Peristiwa itu mengandung makna yang sangat penting
dalam proses perjalanan panjang sejarah politik umat islam. Karena masa-masa
itu merupakan masa peralihan dari pemerintah khalifah yang bersifat demokratis
menjadi pemerintahan yang Monarchi Heridities, yaitu masa pemerinthan Bani
Umayah (661-750 M). Model atau system seperti ini kemudian dipakai oleh
pemerintah islam pada masa-masa sesudahnya, seperti Bani Abbas, Bani Fathimiyah,
Bani Umayah di Spanyol dan sebagianya.
2.
Perkembangan Kemajuan Kebudayaan/Peradaban
Islam di Bidang Sosial Budaya Pada Masa Dinasti Umayyah
Di
antara kebudayaan Islam yang mengalami perkembangan pada masa ini adalah seni sastra,seni
rupa,seni suara,seni bangunan, seni ukir,dan sebagainya. Pada masa ini
telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi,
Persia, dan Arab. Contohnya adalah bangunan masjid Damaskus yang dibangun pada
masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik .
Kebijakan lain dari peninggalan
pemerintahan Dinasti Umayyah adalah mendirikan lembaga Mahkamah Agung. Lembaga
ini didirikan untuk mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan
penyelewengan atau tindakan yang merugikan bangsa dan negara atau bertindak
sewenang-wenang terhadap rakyat. Ia juga membangun Kubah Baru (Qubbah al-Sakhra)di Yarussalem yang
hingga kini masih terpelihara dengan baik. Dalam
bidang sosial budaya, khalifah pada masa Bani Umayyah banyak memberi kontribusi
yang cukup besar dengan dibangunnya rumah sakit (mustasyfayat)di setiap kota oleh Kholifah Walid bin Abdul Malik.
Selain itu juga dibangun rumah singgah bagi anak-anak yatim piatu yang
ditinggal oleh orang tua mereka akibat perang.
Seni
sastra berkembang dnegan pesat dan bermutu tinggi. Seni suara yang berkembang
adalah seni baca Al-qur’an, qasidah, musik dan lagu-lagu yang bernafaskan cinta
kepada Allah. Saat itu bermunculan seniman seniman dari Qori’/qori’ah pertama. Perkembangan seni yang menonjol adalah
penggunaan Khot Arab sebagai motif
ukiran atau pahatan . hal ini dapat di lihat dari banyaknya dinding masjid dan
tembok-tembok istana yang diukir dengan khat
Arab. Salah satunya adalah ukiran dinding Qushair Amrah (Istana Mungil Amrah)
3.
Tokoh Ilmu Tasawuf Pada Masa Dinasti
Umayyah
1)
Hasan Al-Basri
Hasan al-Basri mengenalkan
kepada umat tentang pentingnya tasawuf, karena tasawufdapat melatih jiwa/hati
memiliki sifat zuhud(hatinya tidak terpengaruh dengan harta benda, walau
lahiriyah kaya), sifat roja’(harta benda, anak-anak, jabatan tidak bisa
menolong hidupnya tanpa adanya harapan ridho dari Allah swt) dan sifat
khouf(sifat takut kepada Allah swt yang dalam dan melekat dalam jiwanya).
2)
Sufyan Ats-Tsauri
Beliau lahir dikufah tahun
97 H, mempunyai nama lengkap: Abu Abdullah Sufyan bin SA’id Ats-Tsauri.
Pemikiran bidang taswuf merangkum sebagai berikut:
a. Manusia dapat memiliki sifat zuhud, bila saat ajalnya menghampirinya,
karena kelezatan dunia telah diambil Allah swt, maka manusia baru ingat makna
kehidupannya.
b. Manusia dalam menjalani hidup didunia harus bekerja keras agar hidupnya
tercukupi, dengan kerja manusia dapat terhindar dari kegelapan dan kehinaan.
3) Rabi’ah Al’Adawiyah
Beliau seorang wanita
muliakarena kesadaran dan kecintaannya kepada Allah. Dalam kemiskinan dan
kehinaan, Rabi’ah menjalani hidup kesufian, setiap hari air mata mengalir,
karena getaran taubat, ingatan dzikir dan laparnya nestapa setiap harinya.
4)
Ibrahim bin Adham
Tokoh
tasawuf yang satu ini, berasal dari Persia. Seorang pangeran dari kerajaan
Persia yang meninggalkan kehidupan mewah
di sekitarnya. Untuk menjalani hidup sederhana dengan mendalami ilmu tasawuf.
Peringatan Ibrahim kepada manusia tertulis dalam sindirannya yang indah:”do’a-do’a
kalian tidak didengar oleh Nya disebabkan hatimu telah mati”.
4.
Keteladanan Kesederhanaan
dan Kesalehan Umar bin Abdul Aziz
Umar
bin Abdul Aziz merupakan Khalifah Dinasti Umayyah yang membawa Daulah Umayyah
mencapai puncak kejayaan. Menurut para ahli sejarah, gaya
kepemimpinannyamirip dengan gaya kepemimpinan khulafaur Rasyidin. Dialah
satu-satunya khalifah Bani Umayyah yang tidak dicela oleh para khalifah Bani
Umayyah pada masa selanjutnya.
A.
Biografi Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada tahun
63H/683M dan wafat di Dair Sym’an, Syuriah pada tahun 101H/720M. Nama lengkapnya adalah Abu
Hafes Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin As bin Umayyah bin Abd
Syams. Ia adalah keturunan Umar bin Khattab melalui ibunya yang bernama, Laila
Ummu Asim binti Asim bin Umar bin Khattab. Ia lahir ketika ayahnya Abdul Aziz
menjadi Gubernur di Mesir.
Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah hingga ayahnya wafat
tahun 85H/704M. Kemudian pamanya yang bernama Abdul Malik bin Marwan membawanya
ke Damaskus dan menikahkanya dengan putrinya, Fatimah. Umar bin Abdul Aziz
memperoleh pendidikan di Madinah, yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu
pengetahuan dan gudang para ulama Hadist dan Tafsir. Pendidikan yang
diperolehnya sangat mempengaruhi kehidupan pribadinya dalam melaksanakan tugas
yang diamanatkan kepadanya.
Pada masa pemerintahan Alwalid bin Abdul Malik, Umar bin abdul Aziz
diangkat menjadi Gubernur Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Ketika itu ia
baru berusia 24 tahun. Ketika Masjid Nabawi dibongkar atas perintah Alwalid bin
Abdul Malik untuk diganti dengan bangunan baru yang lebih indah, Umar bin Abdul
Aziz dipercaya sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan itu.
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai gubernur yang adil, bijaksana,
mengutamakan dan memperhatikan kepentingan rakyat, serta mau mendiskusikan
berbagai masalah penting yang berkaitan dengan Agama, urusan rakyat, dan
pemerintahan. Umar bin Abdul Aziz berdasarkan wasiat Khalifah dinasti Umayyah
sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah menjadi khalifah, beliau
meninggalkan cara hidup bermewah-mewahan dan melakukan cara hidup yang
sederhana. Umar bin Abdul Aziz mengembalikan semua harta yang ada pada dirinya
ke Baitul Mal. Beliau mengharamkan atas dirinya untuk mengambil apapun dari
Baitul Mal.
B.
Usaha-usaha Khalifah Umar
bin Abdul Aziz
Pada saat Khalifah Umar bin
abdul Aziz menjadi khalifah, beliau melakukan beberapa usaha antara lain
1.
Bidang Agama
Pada bidang ini usaha
yang dilakukan adalah
1)
Menghidupkan
kembali ajaran Al Qur’an dan Sunah Nabi
2)
Menerapkan hukum Syari’ah
Islam secara serius dan sistematis
3)
Mengadakan
kerja sama dengan ulama-ulama besar seperti, Hasan Al Basri dan Sulaiman bin
Umar
4)
Memerintahkan
kepada Imam Muhammad bin Muslim Bin Syihab Az-Zuhri mengumpulkan hadist-hadist
untuk ditulis
2.
Bidang Pengetahuan
Dalam bidang ini usaha yang
dilakukan adalah memindahkan sekolah kedokteran yang ada di Iskandariah (Mesir)
ke Antakya (Turki) dan Harran (Turki).
3.
Bidang Sosial Politik
Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah
4.
Menerapkan prinsip politik
yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan yang lebih utama dari segalanya.
1) Melihat secara langsung cara kerja para gubernur dengan cara mengirim
utusan ke berbagai negeri.
2) Memecat gubernur yang tidak taat menjalankan agama dan bertindak dzolim
terhadap rakyat.
5.
Bidang Ekonomi
Usaha yang dilakukan dalam
bidang ekonomi adalah
2)
Mengurangi
beban pajak yang dipungut dari kaun nasrani
3)
Menghentikan
Jizyah (pajak) dari umat islam
4)
Membuat aturan mengenai
timbangan dan takaran
5)
Membasmi kerja paksa
6)
Memperbaiki
tanah pertanian, irigasi, penggalian sumur-sumur dan pembangunan jalan.
7)
Menyediakan tempat
penginapan bagi musyafir
8)
Menyantuni fakir miskin
6.
Bidang Dakwah dan
Perluasan wilayah
Khalifah
Umar bin abdul Aziz melakukan perluasan wilayah melalui dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, dengan cara yang
bijak dan lemah lembut. Umar bin Abdul Aziz mengganti kebiasaan mencela nama
Ali bin Abi Thalib dalam Khutbah Jum’at dan mengganti dengan pembacaan firman
Allah SWT. dalam Surat An Nahl:90 yang artinya “sesungguhnya Allah SWT.
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah SWT. melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar dapat kamu mengambil pelajaran”.
C.
Jasa-jasa Khalifah Umar bin Abdul
Aziz
1.
Menciptakan perdamaian
yang dilandasi ajaran Islam
2.
Meningkatkan
kesejahteraan rakyat
3.
Melindungi hak asasi manusia
4.
Menyusun undang-undang
tentang pertahanan
5.
Membangun tanah pertanian
lengkap dengan pengairan
6.
Membangun masjid-masjid
sebagai syiar Islam
7.
Menyediakan dana khusus
untuk menolong orang-orang miskin
8.
Melakukan pembukuan terhadap
hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah selama dua setengah tahun. Waktu
yang relatif lama ia gunakan untuk membuat kebijaksanaan di berbagai bidang. Dalam
melaksanakan kebijaksanaannya, ia tidak memanfaatkan kebijaksanaan itu untuk
memperkaya diri. Ia bahkan menerapkan pola hidup sederhana.
STANDAR KOMPETENSI 6
1.
Faktor Berdirinya
Dinasti Abbasiyah
a. Timbulnya
pertentangan politik antara Muawwiyah dengan pengikut Ali Bin Abi Thalib
(Syiah);
b. Munculnya
golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawwiyah dengan Syiah,
dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil;
c. Timbulnya
politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai;
d. Adanya dasar
penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Al-Qur’an dan oleh
golongan Khawarij orang Islam non-Arab;
e. Adanya konsep hijrah dimana
setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung
dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan
Khawarijlah yang berada pada dar al-Islam;
f. Bertambah
gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein
bin Ali dalam pertempuran Karbala;
g. Munculnya paham
mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.
2. Pendiri Dinasti Abbasiyah
Tokoh-tokoh pendiri Bani Abbasiyah
1.
Muhammad bin Ali bin Abdullah,
2.
Ibrahim al Imam,
3.
Abu Muslim Al Khurasani,
4.
Abul Abbas as-Shaffah
5.
Abu Ja’far al Mansyur.
3.
Kemajuan Kebudayaan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah
a) Lembaga dan
Kegiatan Illmu Pengetahuan
ü
Maktab/kuttub, dan masjid, yaitu lembaga pendidikan
terendah , tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, menghitung, dan
menulis serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama.
ü
Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin
memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah atau ke mesjid-mesjid bahkan
kerumah-rumah gurunya.
ü
Majlis atau saloon kesusastraan, membahas berbagai
macam imu pengetahuan.
ü
Badiah, merupakan dusun-dusun tempat tinggal orang
Arab yang tetap memperhatikan keaslian dan kemurniaan b.arab
ü
Rumah sakit, untuk mendidik tenaga-tenaga yang
berhubungan dengan perawatan dan pengobatan.
Pada perkembangan selanjutnya
mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhaml Mulk (456-485 H).
beliaulah pelopor pertama yang mendirikan dalam bentuk yang ada seperti
Ditemukan di Baghdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil, dan
kota-kotalainnya.
b) Corak Gerakan keIlmuan
Bersifat
spesifik, kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran,
disamping kajian yang bersifat pada Al-Qur’an dab Al-Hadits, sedang astronomi,
mantik dan sastra baru dikembangkandengan penerjemahan dari Yunani.
c) Kemajuan Dalam
Bidang Agama
ü
Ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua
metode penafsiran, yaitu tafsir bi al-matsur dan tafsir bi al-ra’yi.
ü
Dalam bidang Hadits pada zaman ini mulai
diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara
ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits
Shahih,Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan,
sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meiwayatkanhadits tersebut.
ü
Dalam bidang fiqih, pada masa inilahir fuqaha
legendaries yang kita kenal, seperti imam Hanifah (700-767 M), Imam Malik
(713-795 M), Imam Syafei (767-820 M), dan Imam Ahmad ibnu Hambal (780-855 M).
ü
Ilmu Lughah tumbuh berkembang dengan pesat pula
karena bahasa arab yang semakin dewasa memerlukan suatu ilmu bahasa yag
dimaksud adalah nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi, arudh, dan insya.
d) Kemajuan Ilmu
Pengetahuan, Sains dan Teknologi
ü
Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhind
kemudian diterjemahkan oleh Muhammad ibnu Ibrahim Al-Farizi (77 M). ia adalah
Astronom muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur
ketinggian Bintang. Disamping
itu, masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibnu Isa
Al-Asturlabi, Al-Faghani, Al-Batani, Umar Al-Khayan dan Al-Tusi.
ü
Kedokteran, pada masa ini dokter yang pertama yang
terkenal adalah Ali ibnu Rabban Al-Thabri. Pada tahun (850 M) ia mengarang buku
Firdaus Al-Hikmah. Tokoh lainnya adalah Ar-Razi , Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
ü
Ilmu Kimia, bapak ilmu kimia Islam adalah Jabir
ibnu Hayyan (721-815 M). sebenarnya banyak ahli kimia Islam ternama lainnya
seperti Ar-Razi, Al-Tuqrai yang hidup pada abad ke-12 M.
ü
Sejarah dan Geografi, pada masa Abbasiyah sejarawan
ternama abad k3-3 H adalah Ahmad Al-Yakubi, Abu Jafar Muhammad bin Jafar bin
Jarir Al-Tabari. Kemudian
ahli Ilmu Bumi yang termashyur adalah ibnu Khurdazabah (820-913 M)
e) Perkembangan
Politik, Ekonomi, dan Admistrasi
Pada masa pemerintahan Abbasiyah ini merupakan Golden Age dalam perjalanan
sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun. Daulah Bani
Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M), pemerintahan
yang panjang tersebut dapat dibagi dalam bebeapa periode, sepeti yang
disebutkan diatas.
ü
Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode pertama,
kebijakan-kebiajakan politik yang dikembngkan antara lain.
·
Memindahkan Ibu Kota dari Damaskus ke Baghdad;
·
Memusnahkan keturunan Bani Umayyah;
·
Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik,
memperkuat diri, Abbasiyah member peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum
Mawali;
·
Menumpasa pemberontak-pemberontakan;
·
Menghapus politik Kasta.
·
Adapun langkah-langkah lain yang diambil dalam program
politiknya, diantaranya.
·
Para khalifah tetap dari Arab, sementara para Menteri,
gubernur, panglima perang, dan pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan
Mawali;
·
Kota Baghdad ditetapkan sebagai ibu kota ngara dan
menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, dan kebudayaan;
·
Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang
tinggi.
ü
Dalam masa permulaan pemerintahan Abbasiyah,
pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan
cukup stabil da menunjukan angka vertikal. Devisi Negara penuh
berlimpah-limpah. Khalifah Al-Mansur merupakan tokoh Ekonomi Abbasiyah yang
telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan Negara.
ü
Disektor pertanian, daerah-daerah pertanian diperluasa
disegenap wilayah Negara,
bendungan-bendungan dan digali dikanal-kanal sehingga tidak ada daerah
pertanian yang tidak terjangkau dengan irigasi.
ü
Disektor perdagangan, kota Baghdad disamping sebagai
kota politik, agama dan kebudayaan, juga merupakan kota perdagangan yang
terbesar di dunia saat itu. Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua.
Sungai Tigris dan Efrat menjadi pelabuhan tranmisi bagi kapal-kapal dagang dari
berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangan tingkat Internasional ini
semenjak Khalifaf Al-Mansur.
ü
Disektor Administrasi Negara, masa dinasti Abbasiyah
tidak jauh berbeda dengan Dinasti Umayyah. Hanya saja pada masa ini telah
mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan, dan penyempurnaan.
Secara umum, menurut Philip K. Hitti, kendali pemerintahan dipegang oleh
Khalifah sendiri. Sementara itu, dalam operasionalnya, yang menyangkut
urusan-urusan sipil dipercayakan kepada wazir (menteri), masalah hukum
diserahkan kepada qadi (hakim) dan masalah militer dipegang oleh amir.
4.
Karya yang Terkenal Dari Tokoh Ilmu Hadist Pada Masa Dinasti
Abbasiyah
Hadits
adalah perkataan, perbuatan, ketetapan, dan diamnya Nabi Muhammad Saw.
Hadits berkembang sejak Nabi Muhammad Saw. melalui para sahabat kepada sahabat
yang lain, tabiin dan tabiit-tabiin, hingga kaum muslimin. Upaya pengelompokan
hadits diawali oleh Ishaq bin Rawaih, kemudian dilanjutkan oleh Imam al Bukhari
dan Imam Muslim. Kemudian mereka menulis hadits shahih yang kemudian dikenal
dengan Shahih Al Bukhari, dan Shahih Muslim. Ulama hadits lainnya adalah Abu
Dawud, At-Tirmizi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. Mereka masing masing menulis
kitab sunan. Dua kitab shahih dan empat kitab sunan itu terkenal dengan sebutan
Kutubus-Sittah.
Keenam Ulama Hadits terkenal dengan kitab kitabnya
adalah sebagai berikut.
1. Imam Bukhari kitab hadits
susunannya berjudul "Shahih Bukhari"
2. Imam Muslim kitab hadits
susunannya berjudul "Shahih Muslim"
3. Ibnu Majah kitab hadits
susunannya berjudul "Sunan Ibnu Majah"
4. Abu Dawud kitab hadits susunannya
berjudul "Sunan Abu Dawud"
5. At-Tirmidzi kitab hadits
susunannya berjudul "Sunan At-Tirmidzi"
6. An-Nasa'i kitab hadits susunannya
berjudul "Sunan An-Nasa'i"
5.
Tokoh Ilmu Kedokteran Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Ilmu kedokteran
mulai berkembang pada akhir masa Abbasiyah I, yaitu masa Khalifah Al-Watsiq,
sedangkan puncaknya terjadi pada masa Abbasiyah II, III, dan IV. Pada buku-buku
karya Ar-Arazi banyak dijumpai di museum-museum Eropa dan banyak digunakan
sebagai buku rujukan untuk dunia kedokteran.
Tokoh-tokohnya adalah :
a.
Abu Zakaria Ar-Arazi seorang
dokter yang paling termasyur di zamannya beliau seorang kepala Rumah Sakit di
Baghdad.
b.
Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan
muslim yang dikenal dengan julukan “Raja diraja Dokter” dan “Raja Obat” serta
dianggap sebagai perintis tentang penyakit syaraf dan berbagai macam penyakit.
Selain di bidang kedokteran, Ibnu Sina juga terkenal sebagai saintis ulung dan
sebagai filosof. Karya-karya Ibnu Sina sangat terkenal di Barat terutama di
berbagai perguruan tinggi di Prancis, salah satu karyanya yaitu Al-Qanun fi At-Tibb dan Asy-Syifa.
c.
Ibnu Saha adalah saeorang direktur
Rumah Sakit Yudisapur
6.
Tokoh Ilmu Filsafat Pada Masa Dinasti Abbasiyah
·
Al-Kindi banyak menjelaskan
pikiran-pikiran filsafat Aristoteles. Maka tidak heran jika ada yang memberinya
gelar sebagai penggerak filosof Arab.
·
Al-Farabbi lebih dikenal sebagai
seorang filosof daripada ilmuwan.
·
Ibnu Sina selain seorang tokoh di
bidang kedokteran dia juga sorang filosof.
7.
Tokoh Ilmu Tafsir Pada Masa Dinasti Abbasiyah
·
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at Thabari, : Jami’al- Bayan fi Tafsir
Al-Qur’an (at-Tafsir atau Tafsir
Tabari)
·
Fakhruddin Ar Razi : al-Matalib al-Aliyah min al-llm al-Ilahi, Asas Taqdis
dan al-Arba’in fi Usuluddin.
·
Az Zamakhsyari : al-Kasyaf an Haqaid at-Tanzil
wa Uyun al-Aqawil (Penyingkap
Tabir Hakikat Wahyu dan Mata Air Hikmah)
STANDAR KOMPETENSI 7
1.
Biografi Singkat Pendiri Dinasti Ayyubiyah
Shalahuddin
Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi Ayahnya Najmuddin
Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuhhijrah (migrasi)
meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah
ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di
benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya
menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi
kepada 1Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk
kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah 1Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M,
Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi
pembantu dekat Raja Suriah 1Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah,
Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi,
maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus
untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh
tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat
menjadi seorang wazir (konselor).
Bersama
dengan pamannya, salahuddin melawan tentara perang salib pada tahun 559-564H
(1164-1168M). mereka berhasil mengusirnya dari mesir sejak saat itu asaduddin
syirkuh diangkat menjadi perdana menteri khilafah fathimiyah. Setelah pamannya
meninggal jabatan perdana menteri dipercayakan kepada salahuddin al ayyubi pada
tahun 1169M. disana, ia mewarisi peranan sulit yaitu mempertahankan mesir dan
melawan penyerbuan dari kerajaan latin jerrussalem. Pada saat itu tidak ada
seorangpun yang menyangka dia dapat bertahan lama dimesir namun keberhasilan
salahuddin dalam mematahkan serangan tentara dan pasukan romawi bzantium yang
melancarkan perang salib kedua terhadap mesir membuat para tentara mengakuinya
sebagai penggganti pamannya.
2.
Faktor Berdirinya
Dinasti Ayyubiyah
Faktor - faktor
pendorong berdirinya dinasti ayyubiyah :
·
Timbulnya perselisihan antara muawwiyah dengan ali bin abi thalib
·
timbulnya politik
penyelesaiian khilafah dan konflik dengan cara damai
·
adanya penafsiran bahwa keputusan politik harus didasari oleh
alquran
·
bertambah gigihnya perlawanan
3. Prestasi Salahuddin al- Ayyubi Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
Prestasi
gemilang Shalahuddin bermula ketika dia bekerja kepada Nuruddin untuk menguasai
Mesir. Pada tahun 569 H/ 1174 M Nuruddin meninggal, kemudian digantikan oleh
Shalahuddin. Damaskus secara sukarela menerima Shalahuddin setelah kematian
Nuruddin. Kemudian Shalahuddin menaklukkan kota-kota Homs dan Hama di Suriah
dan setelah al-Saleh (anak Nuruddin) meninggal dunia Shalahuddin memasuki
Aleppo dengan mudah. Kemenangan-kemenangan ini membuat catatan yang sangat
penting bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, negara-negra tentara
Salib dikelilingi oleh kerajaan muslim yang besar dan bersatu, yang bertujuan
untuk menghancurkan mereka.
Shalahuddin mempunyai rencana besar untuk
menyatukan umat Islam yang pada saat itu saling berperang dan berusaha mengalahkan
orang-orang Frank yang sudah banyak membuat kekacauan, terutama karena aksi
Reynald dari Catillon di Laut Merah yang mengancam kota-kota suci. Shalahuddin
berusaha menyerang Benteng Karak yang dikuasai oleh Reynald pada tahun 580
H/1184 M, tetapi gagal.
Dalam rangka itu, Ibn Qudamah, ulama aliran
Hanbali, penasehat dekat Shalahuddin yang menyertainya dalam berkampanye,
membacakan karya Ibn Batta, ulama Hanbali, yang berjudul Profession of Faith
pada pada tahun 1186 M, untuk membakar semangat para tentara Shalahuddin.
Di kalangan agamawan Damaskus Abd al-Ghani membacakan karya tulisnya yang
memuji-muji jihad. Di samping itu hadis-hadis dibacakan para ulama saat pasukan
di atas pelana. Hadis-hadis yang dibacakan adalah hadis-hadis tentang kebaikan
jihad dan pahala bagi para sahid.
Shalahuddin adalah pemimpin Perang Salib
yang paling terkenal. Pada Perng Salib III, tepatnya pada tahun 1187 M
Shalahuddin berperang melawan tentara salib yang dipimpin oleh Raja Guy dari
Lusignon dalam pertempuran besar di Hattin. Pertempuran itu dimenangkan oleh
Shalahuddin pada 4 Juli 1187 M dengan kemenangan yang gemilang. Salah seorang
penyair yang bernama Ibn Sana’ al-Mulk (w. 1211 M) menyampaikan pidato yang
memuji kehebatan Shalahuddin dan kemenangan besar dalam perang Hattin. Sebagai
penghargaan atas kemenangan di Hattin dan Yerussalem, dicetak koin emas yang
diukir dengan nama Shalahuddin di Suriah dengan tahun 1187 M, dia disebut
sebagai sultan Islam dan kaum muslim. Lima hari kemudian Acre menyerah. Pada awal
September wilayah selatan pantai Mediterania Timur dari Gaza hingga Jukayl
(kecuali Tirus) telah dikuasai Shalahuddin
Tiga bulan dari kemenangan di Hattin,
tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1187 Shalahuddin dan bala tentaranya berhasil
merebut kembali Yerussalem. Sebelum melakukan serangan ke Yerussalem, yang
ketika itu dikuasai oleh tentara Salib, Shalahuddin memberikan semangat kepada
pasukannya dengan membacakan karya al-Rabai tentang Kemuliaan Kota Yerussalem
pada April 1187 M.
Raja Richard
(Inggris) masih berusaha merebur Baitul Maqdis Yerussalem. Akan tetapi dia
menyadari atas kegigihan shalahuddin, maka ia mengajukan perjanjian damai.
Kemudian pada tanggal 2 Nopember terjadilah kesepakatan antara Shalahuddin
dengan Richard yang isinya antara lain:
1.
Yerussalem tetap dikuasai oleh umat
Islam. Meskipun demikian umat Kristen diizinkan beribadah ke sana.
2.
Orang-orang Salib menguasai pantai
Siriah dan Tyre sampai ke Jaffa.
3.
Umat Islam harus mengembalikan
simbol-simbol agama Kristen kepada umat Kristen.
Rombongan orang Kristen yang pertama kali
ke Yerussalem setelah perjanjian itu dipimpin oleh Andrew, seorang biarawan
dari Chauvigny. Meskipun sudah ada perjanjian bahwa umat Kristen diizinkan ke
Yerussalem, mereka tidak mudah memasukinya. Teringat akan kekejaman tentara
Salib, umat Islam berusaha untuk menghadang rombongan ini dan terjadilah
suasana yang menegangkan di antara mereka. Keadaan ini dilaporkan kepada
Shalahuddin. Kemudian Shalahuddin menenangkan mereka dan berkata kepada umat
Islam, perjanjian telah dibuat antara kalian dengan raja Inggris, jika
perjanjian ini dilanggar atas perbuatan kita, hal ini akan menjadi aib besar
bagi kehormatan kita. Hal ini akan berakibat bahwa kepercaayaan terhadap orang
Arab selamanya akan disangsikan.
Kemudian rombongan ini dipersilakan
memasuki Yerussalem. Shalahuddin juga menempatkan tentara di sepanjang jalan
menuju Yerussalem, bukan untuk membuat umat Kristen ketakutan, melainkan agar
mereka aman. Shalahuddin juga menjamu rombongan itu. Dengan sikap bijaksana
yang dilakukan oleh Shalahuddin ini, maka rombongan peziarah dari umat Kristen
banyak berdatangan dan mereka melaporkan keadaan ini kepada teman-temannya.
Di samping suskses di medan perang,
Shalahuddin juga membangun pemerintahan yaitu Dinasti Ayyubiyah. Dinasti
Ayyubiyah ini didirikan setelah Dinasti Fatimiyah ditaklukkan. Pada masa
al-Adhid Billah, khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah, Dinasti Fatimiyah dalam
keadaan lemah, karena dilanda paceklik, terjadi konflik intern pemerintahan,
dan sebab yang terberat adalah serangan tentara Salib. Melihat bercokolnya
tentara Salib di Mesir yang merupakan wilayah kekuasaan Islam, Nuruddin Zanki,
Gubernur Suriah pada masa Daulah Abbasiyah, memerintahkan panglima Sirkuh dan
Shalahuddin al-Ayyubi untuk pergi ke Mesir untuk mengusir tentara Salib dan
menguasai Mesir, karena penguasa Mesir sudah mulai bekerjasama dengan tentara
Salib. Berkaitan dengan penyerangan ke Mesir sudah disinggung di depan.
Kedudukan Shalahuddin di Mesir semakin kuat
dan banyak mendapatkan simpati dari rakyat Mesir. Pada tahun 1171 al-Adhid
Billah meninggal dunia, maka berakhirlah Dinasti Fatimiyah. Kemudian Mesir
menjadi wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Kalau diamati sekitar tahun 1169 M
Mesir telah dikuasai oleh Shalahuddin, tetapi pada saat itu dia masih patuh dan
tunduk pada Daulah Abbasiyah. Kemudian al-Adhid meninggal pada tahun 1171 M,
tiga tahun kemudian yakni tahun 1174 Nuruddin Zanki pun meninggal dunia dan
pada tahun 1175 kekuasaan Shalahuddin diakui oleh khalifah Daulah Abbasiyah.
Dengan demikian Dinasti ini secara resmi berdiri pada tahun 1175 M, walaupun
Mesir dipimpin oleh Shalahuddin sejak tahun 1169 M.
Wilayah
kekuasaan dinasti ini mewarisi wilayah-wilayah di Mesir, Suriah, dan
Mesopotamia. Tradisi pemerintahannya didasarkan pada tradisi pemerintahan Turki
Saljuk dan pemerintahan Fatimiyah di Mesir. Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah
merupakan pemerintahan yang berbentuk desentralisasi dengan pengertian bahwa
masing-masing penguasa Dinasti Ayyubiyah memerintah sebagai konfederasi.
4.
Usaha yang Dilakukan Oleh Salahudin al-Ayyubi Dalam Perkembangan
Kebudayaan slam Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
- Mendirikan madrasah-madrasah bermazhab Syafi’i dan Maliki
- Mengganti kodi-kodi Syi’ah dengan kodi-kodi Sunni
- Mengganti pegawai pemerintahan yang korupsi
- Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok, karena hal ini dapat membahayakan kedudukan, dan pemerintahannya
- Memanfaatkan Universitas Al-Azhab yang dibangun Dinasti Fatimiyah sebagai tempat pengajaran
5.
Tokoh Ilmuwan Muslim yang Terkenal Pada Masa Dinasti
Ayyubiyah
Pada
masa dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin al Ayyubi beserta keluarga dan
pendiri-pendiri dinasti sangat memperhatikan kelangsungan berbagai bidang
termasuk bidang pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh
ilmuwan yang sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan atau peradaban
Islam, mereka di antaranya adalah:
1. Abdul Latif al Bagdadi
dan Al - Hufi, ahli ilmu mantiq dan bayan (bahasa)
2. Syekh Abul Qasim al
Manfalubi, ahli Fiqih
3. Syamsudin Khalikan,
ahli sejarah
4. Abu Abdullah al
Quda’i, ahli Fiqih, Hadits dan Sejarah
5. Abu Abdullah Muhammad
bin Barakat, ahli nahwu
6. Hasan bin Khatir al
Farisi, ahli Fiqih dan Tafsir
7. Maimoonides, ahli
ilmu astronomi, ilmu ke-Tuhanan, tabib, dan terutama sebagai ahli filsafat.
8. Ibn al Baytar (1246 M), dokter
hewan dan medikal. Beberapa
karyanya yang sampai saat ini masih terkenal di wilayah Eropa tentang buku
ramuan obat Islam “ Management Of The Drug Store”
9. Sejumlah
penulis, sastarawan, dan ilmuwan termuka, seperti Abu Firas Al Hamadani dan
Thayib al Mutanabbi.
STANDAR KONPETENSI 8
1.
Ibrah Dari Perkembangan Kebudayaan Islam
Pada Masa Dinasti
Ayyubiyah
Pada
masa Dinasti Al-Ayyubiyah, wilayah pemerintahan Islam meluas, yaitu mencakup
wilayah mesir, Aleppo, Damaskus, Hamah, Homs, Mayyafariqin, Sinjar, Kayfa,
Yaman, dan Kerak. Pada masa
pemerintahan Dinasti Al-Ayyubiyah berkembang ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu
agama , antara lain, tafsir, fikih, hadis, tasawuf, dan lain-lain. Sedang ilmu
umum, antara lain, kedokteran, matematika, filsafat,sejarah,danpertanian.
Ibrah yang dapat kita ambil dari sifat kepemimpinan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain zuhud, tekun, sungguh-sungguh, cerdas, penuh ilmu dan amal, ikhllas, berakhlak mulia, sangat takut kepada Allah, tasamuh/toleran, dan lain-lain.
Ibrah yang dapat kita ambil dari perkembangan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain :
Ibrah yang dapat kita ambil dari sifat kepemimpinan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain zuhud, tekun, sungguh-sungguh, cerdas, penuh ilmu dan amal, ikhllas, berakhlak mulia, sangat takut kepada Allah, tasamuh/toleran, dan lain-lain.
Ibrah yang dapat kita ambil dari perkembangan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain :
1.
Hancurnya suatu bangsa biasanya diawali dari perebutan kekuasaan di
antara para penguasa/ pejabat. Untuk menghindari terjadinya perebutan
kekuasaan, maka perlu dibuat sebuah sistem pergantian kepemimpinan, salah satu
caranya adalah melalui pemilihan oleh rakyat/ demokrasi
2.
Agar pemimpin memiliki figur dan legimitasi yang kuat
dari rakyatnya, maka ia harus:
a.
Memerhatikan nasib rakyatnya
b.
Memerhatikan pola hidup sederhana
c.
berlaku adil terhadap seluruh lapisan masyarakat dan
menjauhi sikap diskriminatif atau membeda-bedakan
d.
Memiliki akhlak yang baik/ mulia
e.
Amanah dapat dipercaya
3.
Agar suatu bangsa keberadaannya diakui dan sejajar dengan bangsa
lain, maka harus mau melakukan kerja sama dengan bangsa lain. Sehingga setiap
ada permaslahan dapat diselesaikan dengan baik saling menyerang di antara
bangsa satu dengan lainnya dan tidak saling menghancurkan.
bagus,sangat membantu. kalau boleh di kasih lengkap dong pembahasannya, :)
BalasHapus