Sabtu, 05 Maret 2016

Pembahasan Kisi-kisi UAMBN (Sejarah Kebudayaan Islam Materi Kelas 8) Tahun Pelajaran 2015/2016


STANDAR KOMPETENSI 5

1.     Penyebab Berdirinya Dinasti Umayyah
     Proses singat dan sebab-sebab berdirinya Dinasti Bani Umayah
Berdirinya dinasti Bani Umayah dilatarbelakangi oleh sebuah peristiwa penting didalam sejarah perjalanan umat islam, yaitu peristiwa ‘Am al-jama’ah (Rekonsiliasi umat islam). Di maskin dekat madinah, Kufah pada tahun 41 H/661 M.
Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan sejarah umat Islam. Peristiwa ini ditandai dengan proses penyerahaan kekuasaan KHALIFAH dari tangan Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah berkuasa kurang lebih selama 6 bulan. Hasan bin Ali melakukan sumpah setiadan mengakui Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin umat islam. Pengakuan itu kemudian diikuti oleh para pendukungnya di kota Irak, Kufah.
     Meski demikian kekuasaan Hasan bin Ali sangatlah singkat. Peristiwa itu mengandung makna yang sangat penting dalam proses perjalanan panjang sejarah politik umat islam. Karena masa-masa itu merupakan masa peralihan dari pemerintah khalifah yang bersifat demokratis menjadi pemerintahan yang Monarchi Heridities, yaitu masa pemerinthan Bani Umayah (661-750 M). Model atau system seperti ini kemudian dipakai oleh pemerintah islam pada masa-masa sesudahnya, seperti Bani Abbas, Bani Fathimiyah, Bani Umayah di Spanyol dan sebagianya.
2.     Perkembangan Kemajuan Kebudayaan/Peradaban Islam di Bidang Sosial Budaya Pada Masa Dinasti Umayyah
     Di antara kebudayaan Islam yang mengalami perkembangan pada masa ini adalah seni sastra,seni rupa,seni suara,seni bangunan, seni ukir,dan sebagainya. Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia, dan Arab. Contohnya adalah bangunan masjid Damaskus yang dibangun pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik .
Kebijakan lain dari peninggalan pemerintahan Dinasti Umayyah adalah mendirikan lembaga Mahkamah Agung. Lembaga ini didirikan untuk mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan penyelewengan atau tindakan yang merugikan bangsa dan negara atau bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Ia juga membangun Kubah Baru (Qubbah al-Sakhra)di Yarussalem yang hingga kini masih terpelihara dengan baik.         Dalam bidang sosial budaya, khalifah pada masa Bani Umayyah banyak memberi kontribusi yang cukup besar dengan dibangunnya rumah sakit (mustasyfayat)di setiap kota oleh Kholifah Walid bin Abdul Malik. Selain itu juga dibangun rumah singgah bagi anak-anak yatim piatu yang ditinggal oleh orang tua mereka akibat perang.
     Seni sastra berkembang dnegan pesat dan bermutu tinggi. Seni suara yang berkembang adalah seni baca Al-qur’an, qasidah, musik dan lagu-lagu yang bernafaskan cinta kepada Allah. Saat itu bermunculan seniman seniman dari Qori’/qori’ah pertama. Perkembangan seni yang menonjol adalah penggunaan Khot Arab sebagai motif ukiran atau pahatan . hal ini dapat di lihat dari banyaknya dinding masjid dan tembok-tembok istana yang diukir dengan khat Arab. Salah satunya adalah ukiran dinding Qushair Amrah (Istana Mungil Amrah)
3.     Tokoh Ilmu Tasawuf Pada Masa Dinasti Umayyah
1)      Hasan Al-Basri
            Hasan al-Basri mengenalkan kepada umat tentang pentingnya tasawuf, karena tasawufdapat melatih jiwa/hati memiliki sifat zuhud(hatinya tidak terpengaruh dengan harta benda, walau lahiriyah kaya), sifat roja’(harta benda, anak-anak, jabatan tidak bisa menolong hidupnya tanpa adanya harapan ridho dari Allah swt) dan sifat khouf(sifat takut kepada Allah swt yang dalam dan melekat dalam jiwanya).
2)      Sufyan Ats-Tsauri
            Beliau lahir dikufah tahun 97 H, mempunyai nama lengkap: Abu Abdullah Sufyan bin SA’id Ats-Tsauri. Pemikiran bidang taswuf merangkum sebagai berikut:
a.       Manusia dapat memiliki sifat zuhud, bila saat ajalnya menghampirinya, karena kelezatan dunia telah diambil Allah swt, maka manusia baru ingat makna kehidupannya.
b.       Manusia dalam menjalani hidup didunia harus bekerja keras agar hidupnya tercukupi, dengan kerja manusia dapat terhindar dari kegelapan dan kehinaan.
3)     Rabi’ah Al’Adawiyah
            Beliau seorang wanita muliakarena kesadaran dan kecintaannya kepada Allah. Dalam kemiskinan dan kehinaan, Rabi’ah menjalani hidup kesufian, setiap hari air mata mengalir, karena getaran taubat, ingatan dzikir dan laparnya nestapa setiap harinya.
4)      Ibrahim bin Adham
           Tokoh tasawuf yang satu ini, berasal dari Persia. Seorang pangeran dari kerajaan Persia  yang meninggalkan kehidupan mewah di sekitarnya. Untuk menjalani hidup sederhana dengan mendalami ilmu tasawuf. Peringatan Ibrahim kepada manusia tertulis dalam sindirannya yang indah:”do’a-do’a kalian tidak didengar oleh Nya disebabkan hatimu telah mati”.
4.     Keteladanan Kesederhanaan dan Kesalehan Umar bin Abdul Aziz

     Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah Dinasti Umayyah yang membawa Daulah Umayyah mencapai puncak kejayaan. Menurut para ahli sejarah, gaya kepemimpinannyamirip dengan gaya kepemimpinan khulafaur Rasyidin. Dialah satu-satunya khalifah Bani Umayyah yang tidak dicela oleh para khalifah Bani Umayyah pada masa selanjutnya.
A.    Biografi Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada tahun 63H/683M dan wafat di Dair Sym’an, Syuriah pada tahun 101H/720M. Nama lengkapnya adalah Abu Hafes Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin As bin Umayyah bin Abd Syams. Ia adalah keturunan Umar bin Khattab melalui ibunya yang bernama, Laila Ummu Asim binti Asim bin Umar bin Khattab. Ia lahir ketika ayahnya Abdul Aziz menjadi Gubernur di Mesir.
Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah hingga ayahnya wafat tahun 85H/704M. Kemudian pamanya yang bernama Abdul Malik bin Marwan membawanya ke Damaskus dan menikahkanya dengan putrinya, Fatimah. Umar bin Abdul Aziz memperoleh pendidikan di Madinah, yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan dan gudang para ulama Hadist dan Tafsir. Pendidikan yang diperolehnya sangat mempengaruhi kehidupan pribadinya dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya.
Pada masa pemerintahan Alwalid bin Abdul Malik, Umar bin abdul Aziz diangkat menjadi Gubernur Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Ketika itu ia baru berusia 24 tahun. Ketika Masjid Nabawi dibongkar atas perintah Alwalid bin Abdul Malik untuk diganti dengan bangunan baru yang lebih indah, Umar bin Abdul Aziz dipercaya sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan itu.
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai gubernur yang adil, bijaksana, mengutamakan dan memperhatikan kepentingan rakyat, serta mau mendiskusikan berbagai masalah penting yang berkaitan dengan Agama, urusan rakyat, dan pemerintahan. Umar bin Abdul Aziz berdasarkan wasiat Khalifah dinasti Umayyah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah menjadi khalifah, beliau meninggalkan cara hidup bermewah-mewahan dan melakukan cara hidup yang sederhana. Umar bin Abdul Aziz mengembalikan semua harta yang ada pada dirinya ke Baitul Mal. Beliau mengharamkan atas dirinya untuk mengambil apapun dari Baitul Mal.
B.     Usaha-usaha Khalifah Umar bin Abdul Aziz
     Pada saat Khalifah Umar bin abdul Aziz menjadi khalifah, beliau melakukan beberapa usaha antara lain
1.      Bidang Agama
          Pada bidang ini usaha yang dilakukan adalah
1)       Menghidupkan kembali ajaran Al Qur’an dan Sunah Nabi
2)       Menerapkan hukum Syari’ah Islam secara serius dan sistematis
3)       Mengadakan kerja sama dengan ulama-ulama besar seperti, Hasan Al Basri dan Sulaiman bin Umar
4)       Memerintahkan kepada Imam Muhammad bin Muslim Bin Syihab Az-Zuhri mengumpulkan hadist-hadist untuk ditulis
2.      Bidang Pengetahuan
     Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah memindahkan sekolah kedokteran yang ada di Iskandariah (Mesir) ke Antakya (Turki) dan Harran (Turki).
3.      Bidang Sosial Politik
      Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah
4.      Menerapkan prinsip politik yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan yang lebih utama dari segalanya.
1)      Melihat secara langsung cara kerja para gubernur dengan cara mengirim utusan ke berbagai negeri.
2)      Memecat gubernur yang tidak taat menjalankan agama dan bertindak dzolim terhadap rakyat.
5.      Bidang Ekonomi
            Usaha yang dilakukan dalam bidang ekonomi adalah
2)       Mengurangi beban pajak yang dipungut dari kaun nasrani
3)       Menghentikan Jizyah (pajak) dari umat islam
4)       Membuat aturan mengenai timbangan dan takaran
5)       Membasmi kerja paksa
6)       Memperbaiki tanah pertanian, irigasi, penggalian sumur-sumur dan pembangunan jalan.
7)       Menyediakan tempat penginapan bagi musyafir
8)       Menyantuni fakir miskin
6.      Bidang Dakwah dan Perluasan wilayah
                 Khalifah Umar bin abdul Aziz melakukan perluasan wilayah melalui dakwah            amar ma’ruf dan nahi munkar, dengan cara yang bijak dan lemah lembut. Umar bin          Abdul Aziz mengganti kebiasaan mencela nama Ali bin Abi Thalib dalam Khutbah             Jum’at dan mengganti dengan pembacaan firman Allah SWT. dalam Surat An                    Nahl:90 yang artinya “sesungguhnya Allah SWT. menyuruh (kamu) berlaku adil dan      berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT. melarang dari              perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu            agar dapat kamu mengambil pelajaran”.

C.    Jasa-jasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz
1.      Menciptakan perdamaian yang dilandasi ajaran Islam
2.      Meningkatkan kesejahteraan rakyat
3.      Melindungi hak asasi manusia
4.      Menyusun undang-undang tentang pertahanan
5.      Membangun tanah pertanian lengkap dengan pengairan
6.      Membangun masjid-masjid sebagai syiar Islam
7.      Menyediakan dana khusus untuk menolong orang-orang miskin
8.      Melakukan pembukuan terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.

     Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah selama dua setengah tahun. Waktu yang relatif lama ia gunakan untuk membuat kebijaksanaan di berbagai bidang. Dalam melaksanakan kebijaksanaannya, ia tidak memanfaatkan kebijaksanaan itu untuk memperkaya diri. Ia bahkan menerapkan pola hidup sederhana.

STANDAR KOMPETENSI 6

1.     Faktor Berdirinya Dinasti Abbasiyah
a.       Timbulnya pertentangan politik antara Muawwiyah dengan pengikut Ali Bin Abi Thalib (Syiah);
b.      Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawwiyah dengan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil;
c.       Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai;
d.      Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Al-Qur’an dan oleh golongan Khawarij orang Islam non-Arab; 
e.       Adanya konsep hijrah dimana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan Khawarijlah yang berada pada dar al-Islam;
f.       Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein bin Ali dalam pertempuran Karbala;
g.      Munculnya paham mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.
2.     Pendiri Dinasti Abbasiyah

Tokoh-tokoh pendiri Bani Abbasiyah
1.        Muhammad bin Ali bin Abdullah,
2.         Ibrahim al Imam,
3.         Abu Muslim Al Khurasani,
4.         Abul Abbas as-Shaffah
5.         Abu Ja’far al Mansyur.
3.     Kemajuan Kebudayaan Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah
a)       Lembaga dan Kegiatan Illmu Pengetahuan
ü  Maktab/kuttub, dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah , tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, menghitung, dan menulis serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama.
ü  Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah atau ke mesjid-mesjid bahkan kerumah-rumah gurunya.
ü  Majlis atau saloon kesusastraan, membahas berbagai macam imu pengetahuan.
ü  Badiah, merupakan dusun-dusun tempat tinggal orang Arab yang tetap memperhatikan keaslian dan kemurniaan b.arab
ü  Rumah sakit, untuk mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan.
Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhaml Mulk (456-485 H). beliaulah pelopor pertama yang mendirikan dalam bentuk yang ada seperti Ditemukan di Baghdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil, dan kota-kotalainnya.
b)      Corak Gerakan keIlmuan      
Bersifat spesifik, kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran, disamping kajian yang bersifat pada Al-Qur’an dab Al-Hadits, sedang astronomi, mantik dan sastra baru dikembangkandengan penerjemahan dari Yunani.
c)       Kemajuan Dalam Bidang Agama
ü  Ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu tafsir bi al-matsur dan tafsir bi al-ra’yi.
ü  Dalam bidang Hadits pada zaman ini mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih,Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meiwayatkanhadits tersebut.
ü  Dalam bidang fiqih, pada masa inilahir fuqaha legendaries yang kita kenal, seperti imam Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafei (767-820 M), dan Imam Ahmad ibnu Hambal (780-855 M).
ü  Ilmu Lughah tumbuh berkembang dengan pesat pula karena bahasa arab yang semakin dewasa memerlukan suatu ilmu bahasa yag dimaksud adalah nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi, arudh, dan insya.
d)      Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
ü  Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhind kemudian diterjemahkan oleh Muhammad ibnu Ibrahim Al-Farizi (77 M). ia adalah Astronom muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian Bintang. Disamping itu, masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibnu Isa Al-Asturlabi, Al-Faghani, Al-Batani, Umar Al-Khayan dan Al-Tusi.
ü  Kedokteran, pada masa ini dokter yang pertama yang terkenal adalah Ali ibnu Rabban Al-Thabri. Pada tahun (850 M) ia mengarang buku Firdaus Al-Hikmah. Tokoh lainnya adalah Ar-Razi , Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
ü  Ilmu Kimia, bapak ilmu kimia Islam adalah Jabir ibnu Hayyan (721-815 M). sebenarnya banyak ahli kimia Islam ternama lainnya seperti Ar-Razi, Al-Tuqrai yang hidup pada abad ke-12 M.
ü  Sejarah dan Geografi, pada masa Abbasiyah sejarawan ternama abad k3-3 H adalah Ahmad Al-Yakubi, Abu Jafar Muhammad bin Jafar bin Jarir Al-Tabari. Kemudian ahli Ilmu Bumi yang termashyur adalah ibnu Khurdazabah (820-913 M)
e)       Perkembangan Politik, Ekonomi, dan Admistrasi
                             Pada masa pemerintahan Abbasiyah ini merupakan Golden Age dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun. Daulah Bani Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M), pemerintahan yang panjang tersebut dapat dibagi dalam bebeapa periode, sepeti yang disebutkan diatas.
ü  Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode pertama, kebijakan-kebiajakan politik yang dikembngkan antara lain.
·         Memindahkan Ibu Kota dari Damaskus ke Baghdad;
·         Memusnahkan keturunan Bani Umayyah;
·         Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik, memperkuat diri, Abbasiyah member peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum Mawali;
·         Menumpasa pemberontak-pemberontakan;
·         Menghapus politik Kasta.
·         Adapun langkah-langkah lain yang diambil dalam program politiknya, diantaranya.
·         Para khalifah tetap dari Arab, sementara para Menteri, gubernur, panglima perang, dan pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan Mawali;
·         Kota Baghdad ditetapkan sebagai ibu kota ngara dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, dan kebudayaan;
·         Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi.
ü  Dalam masa permulaan pemerintahan Abbasiyah, pertumbuhan ekonomi dapat  dikatakan cukup stabil da menunjukan angka vertikal. Devisi Negara penuh berlimpah-limpah. Khalifah Al-Mansur merupakan tokoh Ekonomi Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam  bidang ekonomi dan keuangan Negara.
ü  Disektor pertanian, daerah-daerah pertanian diperluasa disegenap wilayah  Negara, bendungan-bendungan dan digali dikanal-kanal sehingga tidak ada daerah pertanian yang tidak terjangkau dengan irigasi.
ü  Disektor perdagangan, kota Baghdad disamping sebagai kota politik, agama dan kebudayaan, juga merupakan kota perdagangan yang terbesar di dunia saat itu. Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua. Sungai Tigris dan Efrat menjadi pelabuhan tranmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontak perdagangan tingkat Internasional ini semenjak Khalifaf Al-Mansur.
ü  Disektor Administrasi Negara, masa dinasti Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan Dinasti Umayyah. Hanya saja pada masa ini telah mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan, dan penyempurnaan.
     Secara umum, menurut Philip K. Hitti, kendali pemerintahan dipegang oleh Khalifah sendiri. Sementara itu, dalam operasionalnya, yang menyangkut urusan-urusan sipil dipercayakan kepada wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi (hakim) dan masalah militer dipegang oleh amir.
4.     Karya yang Terkenal Dari Tokoh Ilmu Hadist Pada Masa Dinasti Abbasiyah
            Hadits  adalah perkataan, perbuatan, ketetapan, dan diamnya Nabi Muhammad Saw. Hadits berkembang sejak Nabi Muhammad Saw. melalui para sahabat kepada sahabat yang lain, tabiin dan tabiit-tabiin, hingga kaum muslimin. Upaya pengelompokan hadits diawali oleh Ishaq bin Rawaih, kemudian dilanjutkan oleh Imam al Bukhari dan Imam Muslim. Kemudian mereka menulis hadits shahih yang kemudian dikenal dengan Shahih Al Bukhari, dan Shahih Muslim. Ulama hadits lainnya adalah Abu Dawud, At-Tirmizi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. Mereka masing masing menulis kitab sunan. Dua kitab shahih dan empat kitab sunan itu terkenal dengan sebutan Kutubus-Sittah. 
Keenam Ulama Hadits terkenal dengan kitab kitabnya adalah sebagai berikut.
1.      Imam Bukhari kitab hadits susunannya berjudul "Shahih Bukhari"
2.      Imam Muslim kitab hadits susunannya berjudul "Shahih Muslim"
3.      Ibnu Majah kitab hadits susunannya berjudul "Sunan Ibnu Majah"
4.      Abu Dawud kitab hadits susunannya berjudul "Sunan Abu Dawud"
5.      At-Tirmidzi kitab hadits susunannya berjudul "Sunan At-Tirmidzi"
6.      An-Nasa'i kitab hadits susunannya berjudul "Sunan An-Nasa'i"
5.     Tokoh Ilmu Kedokteran Pada Masa Dinasti Abbasiyah
     Ilmu kedokteran mulai berkembang pada akhir masa Abbasiyah I, yaitu masa Khalifah Al-Watsiq, sedangkan puncaknya terjadi pada masa Abbasiyah II, III, dan IV. Pada buku-buku karya Ar-Arazi banyak dijumpai di museum-museum Eropa dan banyak digunakan sebagai buku rujukan untuk dunia kedokteran.
Tokoh-tokohnya adalah :
a.        Abu Zakaria Ar-Arazi seorang dokter yang paling termasyur di zamannya beliau seorang kepala Rumah Sakit di Baghdad.
b.        Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan muslim yang dikenal dengan julukan “Raja diraja Dokter” dan “Raja Obat” serta dianggap sebagai perintis tentang penyakit syaraf dan berbagai macam penyakit. Selain di bidang kedokteran, Ibnu Sina juga terkenal sebagai saintis ulung dan sebagai filosof. Karya-karya Ibnu Sina sangat terkenal di Barat terutama di berbagai perguruan tinggi di Prancis, salah satu karyanya yaitu Al-Qanun fi At-Tibb dan Asy-Syifa.
c.        Ibnu Saha adalah saeorang direktur Rumah Sakit Yudisapur 
6.     Tokoh Ilmu Filsafat Pada Masa Dinasti Abbasiyah

·         Al-Kindi banyak menjelaskan pikiran-pikiran filsafat Aristoteles. Maka tidak heran jika ada yang memberinya gelar sebagai penggerak filosof Arab.
·         Al-Farabbi lebih dikenal sebagai seorang filosof daripada ilmuwan.
·         Ibnu Sina selain seorang tokoh di bidang kedokteran dia juga sorang filosof.
7.     Tokoh Ilmu Tafsir Pada Masa Dinasti Abbasiyah
·           Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at Thabari, : Jami’al- Bayan fi Tafsir Al-Qur’an (at-Tafsir atau Tafsir Tabari)
·           Fakhruddin Ar Razi : al-Matalib al-Aliyah min al-llm al-Ilahi, Asas Taqdis dan al-Arba’in fi Usuluddin.
·           Az Zamakhsyari : al-Kasyaf an Haqaid at-Tanzil wa Uyun al-Aqawil (Penyingkap Tabir Hakikat Wahyu dan Mata Air Hikmah)

STANDAR KOMPETENSI 7

1.     Biografi Singkat Pendiri Dinasti Ayyubiyah
     Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuhhijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat       Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada 1Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah 1BalbekLebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah 1Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).
     Bersama dengan pamannya, salahuddin melawan tentara perang salib pada tahun 559-564H (1164-1168M). mereka berhasil mengusirnya dari mesir sejak saat itu asaduddin syirkuh diangkat menjadi perdana menteri khilafah fathimiyah. Setelah pamannya meninggal jabatan perdana menteri dipercayakan kepada salahuddin al ayyubi pada tahun 1169M. disana, ia mewarisi peranan sulit yaitu mempertahankan mesir dan melawan penyerbuan dari kerajaan latin jerrussalem. Pada saat itu tidak ada seorangpun yang menyangka dia dapat bertahan lama dimesir namun keberhasilan salahuddin dalam mematahkan serangan tentara dan pasukan romawi bzantium yang melancarkan perang salib kedua terhadap mesir membuat para tentara mengakuinya sebagai penggganti pamannya.
2.     Faktor Berdirinya Dinasti Ayyubiyah
              Faktor - faktor pendorong berdirinya dinasti ayyubiyah :
·         Timbulnya perselisihan antara muawwiyah dengan ali bin abi thalib
·          timbulnya politik penyelesaiian khilafah dan konflik dengan cara damai
·         adanya penafsiran bahwa keputusan politik harus didasari oleh alquran
·         bertambah gigihnya perlawanan
3.     Prestasi Salahuddin al- Ayyubi Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
    Prestasi gemilang Shalahuddin bermula ketika dia bekerja kepada Nuruddin untuk menguasai Mesir. Pada tahun 569 H/ 1174 M Nuruddin meninggal, kemudian digantikan oleh Shalahuddin. Damaskus secara sukarela menerima Shalahuddin setelah kematian Nuruddin. Kemudian Shalahuddin menaklukkan kota-kota Homs dan Hama di Suriah dan setelah al-Saleh (anak Nuruddin) meninggal dunia Shalahuddin memasuki Aleppo dengan mudah. Kemenangan-kemenangan ini membuat catatan yang sangat penting bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, negara-negra tentara Salib dikelilingi oleh kerajaan muslim yang besar dan bersatu, yang bertujuan untuk menghancurkan mereka.
     Shalahuddin mempunyai rencana besar untuk menyatukan umat Islam yang pada saat itu saling berperang dan berusaha mengalahkan orang-orang Frank yang sudah banyak membuat kekacauan, terutama karena aksi Reynald dari Catillon di Laut Merah yang mengancam kota-kota suci. Shalahuddin berusaha menyerang Benteng Karak yang dikuasai oleh Reynald pada tahun 580 H/1184 M, tetapi gagal.
     Dalam rangka itu, Ibn Qudamah, ulama aliran Hanbali, penasehat dekat Shalahuddin yang menyertainya dalam berkampanye, membacakan karya Ibn Batta, ulama Hanbali, yang berjudul Profession of Faith pada pada tahun 1186 M, untuk membakar semangat para tentara Shalahuddin. Di kalangan agamawan Damaskus Abd al-Ghani membacakan karya tulisnya yang memuji-muji jihad. Di samping itu hadis-hadis dibacakan para ulama saat pasukan di atas pelana. Hadis-hadis yang dibacakan adalah hadis-hadis tentang kebaikan jihad dan pahala bagi para sahid.
     Shalahuddin adalah pemimpin Perang Salib yang paling terkenal. Pada Perng Salib III, tepatnya pada tahun 1187 M Shalahuddin berperang melawan tentara salib yang dipimpin oleh Raja Guy dari Lusignon dalam pertempuran besar di Hattin. Pertempuran itu dimenangkan oleh Shalahuddin pada 4 Juli 1187 M dengan kemenangan yang gemilang. Salah seorang penyair yang bernama Ibn Sana’ al-Mulk (w. 1211 M) menyampaikan pidato yang memuji kehebatan Shalahuddin dan kemenangan besar dalam perang Hattin. Sebagai penghargaan atas kemenangan di Hattin dan Yerussalem, dicetak koin emas yang diukir dengan nama Shalahuddin di Suriah dengan tahun 1187 M, dia disebut sebagai sultan Islam dan kaum muslim. Lima hari kemudian Acre menyerah. Pada awal September wilayah selatan pantai Mediterania Timur dari Gaza hingga Jukayl (kecuali Tirus) telah dikuasai Shalahuddin
     Tiga bulan dari kemenangan di Hattin, tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1187 Shalahuddin dan bala tentaranya berhasil merebut kembali Yerussalem. Sebelum melakukan serangan ke Yerussalem, yang ketika itu dikuasai oleh tentara Salib, Shalahuddin memberikan semangat kepada pasukannya dengan membacakan karya al-Rabai tentang Kemuliaan Kota Yerussalem pada April 1187 M.
Raja Richard (Inggris) masih berusaha merebur Baitul Maqdis Yerussalem. Akan tetapi dia menyadari atas kegigihan shalahuddin, maka ia mengajukan perjanjian damai. Kemudian pada tanggal 2 Nopember terjadilah kesepakatan antara Shalahuddin dengan Richard yang isinya antara lain:
1.      Yerussalem tetap dikuasai oleh umat Islam. Meskipun demikian umat Kristen diizinkan beribadah ke sana.
2.      Orang-orang Salib menguasai pantai Siriah dan Tyre sampai ke Jaffa.
3.      Umat Islam harus mengembalikan simbol-simbol agama Kristen kepada umat Kristen.
     Rombongan orang Kristen yang pertama kali ke Yerussalem setelah perjanjian itu dipimpin oleh Andrew, seorang biarawan dari Chauvigny. Meskipun sudah ada perjanjian bahwa umat Kristen diizinkan ke Yerussalem, mereka tidak mudah memasukinya. Teringat akan kekejaman tentara Salib, umat Islam berusaha untuk menghadang rombongan ini dan terjadilah suasana yang menegangkan di antara mereka. Keadaan ini dilaporkan kepada Shalahuddin. Kemudian Shalahuddin menenangkan mereka dan berkata kepada umat Islam, perjanjian telah dibuat antara kalian dengan raja Inggris, jika perjanjian ini dilanggar atas perbuatan kita, hal ini akan menjadi aib besar bagi kehormatan kita. Hal ini akan berakibat bahwa kepercaayaan terhadap orang Arab selamanya akan disangsikan.
     Kemudian rombongan ini dipersilakan memasuki Yerussalem. Shalahuddin juga menempatkan tentara di sepanjang jalan menuju Yerussalem, bukan untuk membuat umat Kristen ketakutan, melainkan agar mereka aman. Shalahuddin juga menjamu rombongan itu. Dengan sikap bijaksana yang dilakukan oleh Shalahuddin ini, maka rombongan peziarah dari umat Kristen banyak berdatangan dan mereka melaporkan keadaan ini kepada teman-temannya.
     Di samping suskses di medan perang, Shalahuddin juga membangun pemerintahan yaitu Dinasti Ayyubiyah. Dinasti Ayyubiyah ini didirikan setelah Dinasti Fatimiyah ditaklukkan. Pada masa al-Adhid Billah, khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah, Dinasti Fatimiyah dalam keadaan lemah, karena dilanda paceklik, terjadi konflik intern pemerintahan, dan sebab yang terberat adalah serangan tentara Salib. Melihat bercokolnya tentara Salib di Mesir yang merupakan wilayah kekuasaan Islam, Nuruddin Zanki, Gubernur Suriah pada masa Daulah Abbasiyah, memerintahkan panglima Sirkuh dan Shalahuddin al-Ayyubi untuk pergi ke Mesir untuk mengusir tentara Salib dan menguasai Mesir, karena penguasa Mesir sudah mulai bekerjasama dengan tentara Salib. Berkaitan dengan penyerangan ke Mesir sudah disinggung di depan.
     Kedudukan Shalahuddin di Mesir semakin kuat dan banyak mendapatkan simpati dari rakyat Mesir. Pada tahun 1171 al-Adhid Billah meninggal dunia, maka berakhirlah Dinasti Fatimiyah. Kemudian Mesir menjadi wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Kalau diamati sekitar tahun 1169 M Mesir telah dikuasai oleh Shalahuddin, tetapi pada saat itu dia masih patuh dan tunduk pada Daulah Abbasiyah. Kemudian al-Adhid meninggal pada tahun 1171 M, tiga tahun kemudian yakni tahun 1174 Nuruddin Zanki pun meninggal dunia dan pada tahun 1175 kekuasaan Shalahuddin diakui oleh khalifah Daulah Abbasiyah. Dengan demikian Dinasti ini secara resmi berdiri pada tahun 1175 M, walaupun Mesir dipimpin oleh Shalahuddin sejak tahun 1169 M.
Wilayah kekuasaan dinasti ini mewarisi wilayah-wilayah di Mesir, Suriah, dan Mesopotamia. Tradisi pemerintahannya didasarkan pada tradisi pemerintahan Turki Saljuk dan pemerintahan Fatimiyah di Mesir. Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah merupakan pemerintahan yang berbentuk desentralisasi dengan pengertian bahwa masing-masing penguasa Dinasti Ayyubiyah memerintah sebagai konfederasi.

4.     Usaha yang Dilakukan Oleh Salahudin al-Ayyubi Dalam  Perkembangan Kebudayaan slam Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
  • Mendirikan madrasah-madrasah  bermazhab Syafi’i dan Maliki
  • Mengganti kodi-kodi  Syi’ah dengan kodi-kodi  Sunni
  • Mengganti pegawai pemerintahan yang korupsi 
  • Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok, karena hal ini dapat membahayakan kedudukan, dan pemerintahannya
  • Memanfaatkan Universitas Al-Azhab yang dibangun Dinasti Fatimiyah sebagai tempat pengajaran
5.     Tokoh Ilmuwan Muslim yang Terkenal Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
            Pada masa dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin al Ayyubi beserta keluarga dan pendiri-pendiri dinasti sangat memperhatikan kelangsungan berbagai bidang termasuk bidang pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan yang sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan atau peradaban Islam, mereka di antaranya adalah:
1.      Abdul Latif al Bagdadi dan Al - Hufi, ahli ilmu mantiq dan bayan (bahasa)
2.      Syekh Abul Qasim al Manfalubi, ahli Fiqih
3.      Syamsudin Khalikan, ahli sejarah
4.      Abu Abdullah al Quda’i, ahli Fiqih, Hadits dan Sejarah
5.      Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, ahli nahwu
6.      Hasan bin Khatir al Farisi, ahli Fiqih dan Tafsir
7.      Maimoonides, ahli ilmu astronomi, ilmu ke-Tuhanan, tabib, dan terutama sebagai ahli filsafat.
8.      Ibn al Baytar (1246 M), dokter hewan dan medikal. Beberapa karyanya yang sampai saat ini masih terkenal di wilayah Eropa tentang buku ramuan obat Islam “ Management Of The Drug Store”
9.      Sejumlah penulis, sastarawan, dan ilmuwan termuka, seperti Abu Firas Al Hamadani dan Thayib al Mutanabbi.

STANDAR KONPETENSI 8

1.     Ibrah Dari Perkembangan Kebudayaan  Islam Pada Masa Dinasti Ayyubiyah
   Pada masa Dinasti Al-Ayyubiyah, wilayah pemerintahan Islam meluas, yaitu mencakup wilayah mesir, Aleppo, Damaskus, Hamah, Homs, Mayyafariqin, Sinjar, Kayfa, Yaman, dan Kerak. Pada masa pemerintahan Dinasti Al-Ayyubiyah berkembang ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama , antara lain, tafsir, fikih, hadis, tasawuf, dan lain-lain. Sedang ilmu umum, antara lain, kedokteran, matematika, filsafat,sejarah,danpertanian.
Ibrah yang dapat kita ambil dari sifat kepemimpinan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain zuhud, tekun, sungguh-sungguh, cerdas, penuh ilmu dan amal, ikhllas, berakhlak mulia, sangat
takut kepada Allah, tasamuh/toleran, dan lain-lain.
Ibrah yang dapat kita ambil dari perkembangan Dinasti Al-Ayyubiyah , antara lain :

1.       Hancurnya suatu bangsa biasanya diawali dari perebutan kekuasaan di antara para penguasa/ pejabat. Untuk menghindari terjadinya perebutan kekuasaan, maka perlu dibuat sebuah sistem pergantian kepemimpinan, salah satu caranya adalah melalui pemilihan oleh rakyat/ demokrasi
2.       Agar pemimpin memiliki figur dan legimitasi yang kuat dari rakyatnya, maka ia harus:
a.       Memerhatikan nasib rakyatnya
b.      Memerhatikan pola hidup sederhana
c.       berlaku adil terhadap seluruh lapisan masyarakat dan menjauhi sikap diskriminatif atau membeda-bedakan
d.      Memiliki akhlak yang baik/ mulia
e.       Amanah dapat dipercaya
3.       Agar suatu bangsa keberadaannya diakui dan sejajar dengan bangsa lain, maka harus mau melakukan kerja sama dengan bangsa lain. Sehingga setiap ada permaslahan dapat diselesaikan dengan baik saling menyerang di antara bangsa satu dengan lainnya dan tidak saling menghancurkan. 

1 komentar:

  1. bagus,sangat membantu. kalau boleh di kasih lengkap dong pembahasannya, :)

    BalasHapus